Pernahkah kita mengeluh ketika kita terlambat masuk ke kelas waktu kuliah sehingga tidak diperkenankan mengikuti perkuliahan? Ataukah kita menjadi stress karena padatnya jadwal kuliah yang berbentur dengan amanah-amanah kita di kampus? Atau apakah kita merasa jengkel dengan teman-teman syuro yang selalu kita temui tiap minggu?
Yah… adalah wajar jika kita merasakan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita ingin pulang kampung sesegera mungkin setelah hari libur diketahui, namun pada waktu yang telah direncanakan itu ternyata kita mendapat amanah untuk mengikuti suatu daurah. Perintah langsung dari sang Murobbi. Dan dengan terpaksa kita mengikuti daurah itu. tapi, ternyata keterpaksaan itu berbuah penyesalan dalam diri karena daurah yang kita ikuti sangat bermanfaat. Kita menjadi lebih memahami tentang islam dan kita semakin dikuatkan dalam dakwah ini. Keterpaksaan yang kita sesali setelah mengetahui manfaat yang kita dapatkan. Boleh jadi di awal ketika Murobbi memerintahkan untuk mengikuti daurah, kita mencoba berkali-kali menolaknya dengan bermacam alasan. Bahkan alasan yang paling ampuh, Birrul Walidain. Padahal libur kita panjang, dan orang tua pun belum dikabari jika kita akan pulang hari itu. Nah… setelah menyesal, pernahkah kita meminta maaf pada murobbi? Atau minimal menceritakan tentang daurah yang kita ikuti kepada murobbi?
Contoh di atas adalah sedikit dari peristiwa yang pernah kita perankan. Masih banyak peran-peran lain dalam fragmen-fragmen kehidupan yang kita jalani. Lalu seberapa banyak peristiwa yang kita nikmati dalam berperan di dalamnya? apakah hanya kisah-kisah yang indah? Atau kita hanya menikmati peran yang kita sukai? Misalkan, kita hanya menyukai peran ketika kita menjadi asisten penelitian dosen karena sudah jelas hubungannya dengan masa depan yang kita rencanakan. Sedangkan kita menjadi tidak bersemangat ketika mengikuti suatu acara upgrading keislaman yang waktunya sehari sebelum hari ujian di perkuliahan kita. Jika itu pernah terjadi pada diri kita, “Ya Allah kami mohon ampun atas perbuatan kami yang tidak berkenan bagiMu…”
Menikmati peran, itulah kunci agar kita bisa menambil setiap hikmah yang Allah berikan pada setiap peran yang kita mainkan. Apapun itu bentuk perannya, peran yang sangat kita sukai hingga peran yang tidak kita sukai. Menikmati peran juga akan membuat kita semakin bersyukur kepada Allah SWT, karena ternyata setiap peran yang kita mainkan itu tidak hanya semakin mendekatkan kita padaNya tetapi juga mendekatkan kita pada impian tentang masa depan kita.
Lalu bagaimanakah caranya agar kita bisa menikmati setiap peran kita? Akan ada banyak sekali cara yang dapat kita lakukan. Beberapa yang dapat kita lakukan adalah: positive thinking, berbesar hati (legawa), mensyukuri setiap langkah yang telah kita kerjakan, dan berusaha menciptakan suasana positif disekitar kita.
Positive thinking. Adalah respon yang pertama kali kita usahakan ketika menerima suatu peran. Respon ini yang akan menambah ruang pandangan kita terhadap suatu peran. Memahami peran melalui beberapa sudut pandang sangat diperlukan. Dengan berpikiran positif maka kita telah membuka satu pintu sudut pandang. Berpikir positif sangat membantu kita untuk berpikiran jernih.
Berbesar hati. Sering kali hati kita menjadi kecil ketika harus melakukan sesuatu yang kurang kita sukai. Atau ketika ada seorang sahabat yang menegur kita karena kesalahan kita. Hati kita menjadi kecil, dunia menjadi sempit. Apalagi jika kita melakukan kesalahan dalam melaksanakan suatu amanah yang berdampak besar bagi seluruh jamaah. Berbesar hati…. Itulah kunci agar kita tidak terlalu lama berada dalam rasa bersalah atau rasa kecewa. Berbesar hati ketika melaksanakan suatu amanah yang tidak kita senangi akan membesarkan hati kita, meringankan langkah yang terasa berat di awal. Berbesar hati mengeluarkan kita dari perasaan terlalu menyalahkan diri ketika ditegur seorang sahabat yang melihat kesalahan kita. Berbesar hati saat itu membuat kita bersyukur ada seorang sahabat yang masih memperhatikan kita.
Mensyukuri setiap langkah yang telah kita kerjakan. Bersyukur tidak dapat dipisahkan dari pikiran positif yang telah kita bangun diawal menerima peran. Mensyukuri setiap langkah yang telah kita kerjakan hanya memerlukan sedikit terhadap perhatian kecil pada peran kita. Pernahkah kita bersyukur karena memiliki seorang murobbi seperti murobbi yang kita miliki? Teman-teman halaqoh atau mentoring yang ketika kita perhatikan satu persatu ternyata ada manfaatnya bagi perkembangan diri kita dalam mengemban amanah dakwah ini, dan menuntun kita untuk dewasa dalam dakwah. atau pernahkah kita bersyukur karena mengikuti kajian yang salah tema nya dari tema semula, atau kajian yang ternyata pengisinya ustad pengganti.
Mensyukuri saat-saat seperti diatas dapat diawali dari mensyukuri setiap langkah kecil kita. Misalkan ketika datang pada pengajian yang ternyata diisi oleh ustad pengganti. Tema nya pun tidak sesuai yang kita harapkan sebelumnya. Nah… maksud mensyukuri setiap langkah kecil kita, di awalai dengan mensyukuri kemudahan yang kita dapatkan untuk menuju tempat kajian, mensyukuri jalan-jalan yang tidak menimbulkan bahaya bagi kita, mensyukuri bisa bertemu dengan banyak sahabat seperjuangan di tempat kajian. Hal-hal seperti itu jika kita dapat mensyukurinya akan memudahkan kita bersyukur ketika menghadapi hal yang tidak kita bayangkan dan tidak kita inginkan sebelumnya
Menciptakan suasana positif. Dapat dikatakan ini adalah efek-efek dari tiga hal yang telah kita lakukan sebelumnya. Menciptakan suasana positif, menularkan rasa syukur kita kepada orang-orang disekitar kita. Dalam menikmati peran, bagian ini adalah bumbu yang akan membuat kita semakin menikmati peran kita. Kita berbahagia dan mampu mengambil suatu hikmah dari peran kita, sementara itu orang-orang disekitar kita bisa merasakan suasana positif yang kita ciptakan. Suasana yang tercipta itu bisa mempertahankan suasana dalam menikmati setiap peran kita.
Menikmati peran akan membuat kita semakin mengetahu posisi kita dan semakin mendekatkan kita kepada sang Pencipta. Dan membuat kita semakin memahami diri kita dalam usaha mencapai tujuan-tujuan dan impian kita. Bahkan kita bisa melihat peran besar kita dalam mewujudkan islam sebagai rahmat di seluruh dunia ini.
Comments
Post new comment