Mendidik, Terdidik

nana's picture

Dakwah bukanlah kata yang asing bagi kita. Makna dakwah secara bahasa maupun istilah telah banyak diketahui. Dunia memang semakin kacau dan memabukkan. Dan tak sedikit manusia yang terlena di dalamnya. Namun di sisi lain, semakin banyak pula orang yang bersemangat menyeru manusia kepada Alloh dengan hikmah dan perkataan atau nasehat yang baik sampai mereka mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam. Sebagian orang-orang yang telah merasa tercerahkan, kemudian merasa bahwa dirinya harus berperan serta dalam membagi cahaya itu.

Maka, bagi seseorang, menjadi objek dakwah sesungguhnya merupakan suatu keberuntungan besar. Didakwahi memang tidak akan membuat mereka kaya raya secara duniawi dalam sekejap. Mereka mendapatkan apa yang jauh lebih berharga, kekayaan yang akan mereka bawa sampai akhirot. Selain itu, ada bonus-bonus “kecil” yang bisa mereka dapatkan, terutama dalam suatu proses pembinaan yang intensif. Ikatan ukhuwah adalah satu hal yang paling terasa. Orang dengan latar belakang komunitas yang sangat berbeda dan tempat tinggalnya berjauhan bisa menjadi orang yang paling kita percaya untuk mencurahkan perasaan dalam ikatan ini. Dalam ikatan tersebut juga, seseorang menjadi lebih terkontrol ibadahnya. Dia akan lebih bersemangat dalam fastabiqul khoirot dan semakin malu bila lalai.

Kita seringkali tak menyadari bahwa ketika mendengar kata berdakwah, seringkali kita secara otomatis berpikir bahwa objeknya adalah orang lain. Mad’u dalam pikiran kita adalah orang yang kita hadapi untuk didakwahi. Begitu pula halnya dengan kata membina. Kita berkutat pada apa yang kita lakukan untuk sekelompok manusia yang disebut sebagai binaan. Kita berfokus pada bagaimana mengubah mereka menjadi apa yang kita sebut sebagai baik.

Dengan persepsi bahwa aktivitas dakwah dan membina mempunyai objek orang lain di sekitar kita, akan sulit bagi kita untuk mengungkapkan manfaat dari aktivitas tersebut bagi diri kita sendiri. Padahal dakwah juga dapat diartikan sebagai upaya untuk mengubah diri dan lingkungannya. Bila tak ingat bahwa aktivitas tersebut sebenarnya juga bermanfaat bagi dirinya, terkadang seseorang mudah lelas dan putus asa bila target-target yang diharapkan dapat dicapai sang mad’u atau binaan tidak terpenuhi.

Berdakwah itu wajib. Dan Rosululloh sendiri juga sudah mencontohkan betapa intensifnya metode pembinaan beliau kepada shohabat-shohabatnya. Maka sebuah aktivitas yang berada dalam kerangka dakwah tentu akan mendatangkan pahala bagi kita. Apalagi bila kemudian sang binaan membagi ilmunya kepada orang lain lagi. Kita sebagai uplinenya mungkin tak pernah sadar bila kita bisa saja dibanjiri pahala dari hal sederhana yang bahkan mungkin kita lupa pernah mengucapkannya.

Selain itu, ada hal sederhana yang bolehlah diistilahkan mekanisme feedback. Sering terngiang-ngiang dalam pikiran saya kata-kata dari sebuah iklan layanan masyarakat di televisi bertahun-tahun yang lalu. Di situ, seorang wanita yang mengabdikan dirinya untuk mengajari baca tulis pada anak-anak di Suku Anak Dalam di Jambi mengucapkan rangkaian kata-kata sederhana yang menurut saya sangat magis. Dia berucap, di antaranya, “Karena hidup haruslah bermanfaat. Menolong, ditolong. Mendidik, terdidik.” Dia tidak berjilbab, dan bahkan saya tak yakin agama apa yang dianutnya. Namun kesederhanaannya dalam mengartikan apa yang dilakukannya seharusnya membuat kita cukup malu.

Prinsip feedback bahkan terdapat dalam sebuah janji agung dari Alloh kepada hambaNya dalam alQuran suroh Muhammad ayat 7 yang artinya, “Jika kamu menolong (agama) Alloh niscaya Alloh akan menolong kamu dan meneguhkan langkah-langkah kamu.” Begitu pula dalam suroh alLail ayat 5-11, “Adapun orang-orang yang memberi (apa
saja yang dimilikinya di jalan Alloh) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala
yang terbaik (husna) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan
pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” Jadi, sebesar apa pun pemberian (al athoo) dalam da’wah maka sebesar itu pula kemudahan (al yusroo) yang akan diperoleh dari Alloh dalam upaya meraih cita-cita dan tujuan-tujuan dakwah.

Sebagai orang yang membina, kita membagi ilmu pada binaan kita. Dan agar bisa berbagi tentu kita berusaha pundi-pundi ilmu yang kita punya cukup banyak kuantitas dan kualitasnya. Maka, selain mendidik, kita juga terdidik karena kita juga terus menerus belajar. Binaan kita mungkin menganggap keberadaan kita turut membantu mengontrol ibadah dan aktivitasnya. Dan sebenarnya, walaupun binaan kita tidak menyadarinya, dia juga sudah membantu mengontrol diri kita sendiri. Kalau melihat binaan yang begitu bersemangat, kita tentu berusaha agar tidak kalah dengan apa yang dicapai binaan kita. Bahkan ketika binaan kita tidak bersemangat pun hal itu bisa pula memacu kita. Barangkali apa yang ada dalam diri kita turut andil dalam ketidaksemangatan mereka. Kita juga bisa merasakan nikmat ukhuwah yang ada. Tak jarang pula kita turut merasa nyaman bercerita—mencurahkan perasaan—pada mereka, walaupun tentu terbatas pada hal-hal tertentu saja.

Masih banyak hal lain yang dapat menjawab pertanyaan kenapa kita harus membina. Dan tentu dengan dalil yang lebih banyak lagi. Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan ini hanyalah pandangan sederhana saya terhadap sebuah aktivitas membina. Mungkin tak berarti banyak, namun cukuplah memberi semangat bagi diri saya sendiri. Mengingatkan diri saya, bahwa seberbeda apapun warna dan sekecil apapun ukuran dari batu bata yang kita pegang, bisa jadi begitu berarti dalam bangunan ummat ini.

**artikel ini ditulis sebagai pemenuhan tugas dalam sebuah dauroh setahun yang lalu. Akhirnya diposting karena sudah lewat deadline janji sama admin untuk posting tulisan :P
Ada beberapa kutipan sebenarnya, tapi footnote nya hilang >_<

Trackback URL for this post:

http://inspiratif.org/trackback/90
0
Your rating: None

Comments

panji_Arohman's picture

wah, gw tahu daurah apa

wah, gw tahu daurah apa nih...

bahkan gw pernah ngeliat bos-nya si superman lagi acc-surat punya ybs..

hmm, tapi mantep emang nih kaderisasi kebaikan
lanjutkan!

supermancakep's picture

hmmm.... daurah apa ya? dulu

hmmm.... daurah apa ya? dulu kayaknya juga punya tugas yang sama.
untuk refleksi saat sekarang.... moga diberi keberkahan atas apa yang kita lakukan. udah punya berapa binaan? atau ada berapa yang membina? ^_^

nana's picture

wah, jawaban dari

wah, jawaban dari pertanyaannya off the record semua :D

Post new comment

Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.