Catatan Seorang Kakak yang Bingung Melihat Kiprah Adik-Adiknya

puch's picture
Oleh: Ustd. Arief Munandar

Bingung dan sedih, mungkin dua kata itulah yang paling tepat menggambarkan pikiran dan perasaanku melihat sepak terjang beberapa adikku, para Aktifis Dakwah Kampus (ADK). Perilaku yang tampak di permukaan bagiku sudah di luar batas toleransi, antara lain mudah berkonflik dengan berbagai pihak yang tidak sepaham. Tak kurang mudahnya pula mengecam, memberikan label, bahkan menghakimi. Orang lain yang tak sependapat, walaupun dia juga muslim, bahkan juga ikhwan yang sama–sama mengaji, disebut "pengkhianat," atau bahkan dilabeli "khawarij." Pedih hati ini menyimak realitas seperti itu. Apakah harus sedemikian kasar? Apalagi kita ini berdakwah di tengah–tengah komunitas mayoritas muslim, saudara–saudara seiman kita sendiri.

Wahai adik–adikku, izinkan aku bertanya, siapa gerangan contoh yang antum jadikan panutan dalam bersikap sekeras itu? Nahnu du'at, wala qudhat. Kita adalah penyeru, bukan hakim. Demikian kata Hasan Hudaibi. Yang kukhawatirkan adalah ada penyimpangan yang paradigmatis dalam dakwah kampus kita. Penyimpangan yang berakar pada orientasi, sehingga berbuah kesalahan kriteria keberhasilan yang dijadikan rujukan, yang muncul dalam bentuk empirik: mengacaukan "tujuan" dengan "cara," menjadikan means sebagai ends. To the point saja, posisi dan kekuasaan dalam politik kampus itu sekedar alat, bukan tujuan dakwah. Ketika pikiran kita tersimpangkan dengan memandangnya sebagai tujuan maka kita akan kalap pada saat ia lepas dari genggaman. Lalu kekalapan itu muncul dalam berbagai bentuk perilaku yang tak pantas.

Mohon maaf jika aku berpikir terlampau sederhana. Mestinya sukses ADK di ranah siyasi merupakan resultan dari kerja dakwah secara keseluruhan, bukan kerja politik "dadakan" yang kasar dan dipaksakan. Ringkasnya, jika kegiatan–kegiatan syiar berjalan dengan baik dan semarak, sehingga insan kampus bisa merasakan indah dan sejuknya Islam, lalu kerja–kerja kaderisasi berjalan dengan progresif dan berdeterminasi tinggi, kita tidak perlu kerja ekstra pada setiap momen Pemira. Mengapa? Karena di satu sisi, kita akan punya stok kandidat yang mumpuni, bukan hanya dari sisi "kriteria internal," namun terlebih lagi "kepantasan publik." Di sisi lain, dakwah yang indah dan sejuk itu pun berkontribusi membangun acceptance yang tinggi terhadap kita, sehingga kandidat kita tidak perlu menghadapi resistensi yang berlebihan.

Aku punya satu pikiran yang mungkin agak "liar." Kalau sampai diperlukan fatwa agar publik, paling tidak mereka yang masuk dalam kategori ter–tarbiyah, memilih kandidat yang kita usung, artinya ada kesalahan mendasar dalam proses dakwah kita. Kalau syiar dan proses pembinaan berjalan dengan benar, baik, dan masif, lalu menghasilkan 3 buah yang manis: pemahaman kader, kandidat berkualitas, dan akseptansi publik, mestinya tidak perlu lagi ada arahan, fatwa, apalagi ancam–mengancam, untuk memilih kandidat tertentu.

Mungkin adik–adik ADK perlu belajar lagi bahwa publik dan ruang publik punya logikanya sendiri. Sebagai sebuah "pasar," ranah politik, termasuk politik kampus, di satu sisi punya sifat seperti "Tuhan," dalam artian ia memberi reward atas kerja politik yang tidak hanya keras, namun juga cerdas, dan dapat dicerna oleh logika publik dan ruang publik, dan ia juga memberi punishment untuk kerja politik yang sebaliknya. Namun tidak seperti "Tuhan," pasar politik tidaklah punya belas kasihan, it has no mercy at all. Pihak yang salah dalam melangkah dihukumnya tanpa ragu–ragu, tanpa ampun. Ingat Bung, militansi saja tidak cukup. Militansi minus kecerdasan dan akal sehat hanya akan membuat kita menjadi bonek yang lebih banyak merusak ketimbang membawa maslahat.

Akhirnya, aku ingin berbagi dua catatan sedih dan dua catatan gembira. Di sebuah kampus besar di pulau Jawa, berbagai kekuatan warna–warni berkoalisi ketika Pemira kampus. Satu saja yang menyatukan mereka: asal ketua BEM–nya bukan ADK. Menurutku, jika sampai umat yang awam bersatu-padu memboikot para da'i, ada yang salah dengan sepak-terjang para da'i itu. Aku percaya bahwa tidak pantas kita minta umat berubah sebelum da'inya berubah.

Beberapa adik yang mengaji denganku pamit mundur dari halaqah sembari berkata, "Afwan bang, kami tidak melihat idealita yang abang ajarkan setiap pekan di halaqah dalam keseharian para ADK. Mengapa mereka selalu memonopoli kebenaran?" Mungkin akan ada yang berkata bahwa adik–adikku itu kurang matang tarbiyah–nya sehingga mereka tidak mampu tegar dan bersabar. Bisa jadi. Tapi kan bukan salah mereka jika mereka merindukan kesatuan antara idealitas prinsip–prinsip dakwah yang mereka telan tiap pekan dengan realita dakwah yang terdekat di kampus mereka?

Sekarang catatan gembiranya. Beberapa waktu yang lalu kukirim sebuah message via FB untuk seseorang yang baru mendapat amanah mendampingi seorang ikhwan menjadi Ketua BEM sebuah kampus ternama. Di samping mengucapkan selamat, kuajak dia mengaji bersama. Alhamdulillah dia menyambut ajakan itu, dan hadir di rumahku bersama seorang temannya. Beberapa hari yang lalu juga kukirim SMS kepada seorang ikhwan yang sempat dicap "pengkhianat" dan "khawarij" karena dengan suatu alasan dia memutuskan tetap maju untuk pencalonan sebuah jabatan publik di kampus dan akhirnya menang, walaupun musyawarah ADK menetapkan kandidat lain. Kuajak ikhwan itu kembali mengaji. Alhamdulillah dia juga bergembira dengan ajakan itu. Mudah-mudahan aku kemudian tidak mendapat label "murobbi para pengkhianat" he he he.

DAKWAH KAMPUS

Mestilah menjadi representasi keagungan, keindahan, keluasan, kemudahan, jalan tengah, inklusifisme, serta segala kebaikan yang semestinya melekat pada kata Islam.

Mestilah merupakan oasis keteduhan yang menyelamatkan,
sebagaimana hakikat dakwah sebagai gerakan penyelamatan.

Mestilah menjadi icon pemersatu segenap potensi kebaikan dan kemaslahatan,
dan bukannya pemecah-belah,
karena Islam adalah penggiat persatuan dan memusuhi perpecahan.

Mestilah menjadi rahmat bagi lingkungan kampus, dan bahkan lingkungan yang lebih luas,
di manapun ia berada.

Sudahkah??

Trackback URL for this post:

http://inspiratif.org/trackback/86
0
Your rating: None

Comments

Kartika.RizqiMaulanaPN's picture

I got the point-s

I got the point-s

supermancakep's picture

hiks... hiks... hikss...

hiks... hiks... hikss... tantangan kita adalah kualitas dan kuantitas, tetapi kualitas kader (kita) saat ini dipertanyakan. huff... kerja dakwah yang semakin berat itu perlu tenaga yang besar!

Post new comment

Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.