Ranumnya seperti buah di musim panas….

puch's picture

Tiba waktunya buah mangga ranum, musim buah mangga. Sepanjang jalan Kaliurang bisa kita lihat, begitu banyak pedagang buah mangga yang berjajar menjajakan dagangannya. Harganya murah pula, ada yang Rp 3.000,00 per kilo. Tapi sayang, ranumnya datang di musim hujan. Dari luar buahnya nampak besar-besar berisi, tapi di dalam sangat banyak kandungan airnya serta rasanya tak begitu manis. Kadang malah busuk di dalamnya dimakan ulat. Well, aku tak hendak menuliskan tentang mangga.

Back to Farmasi back to UGM, akhir-akhir ini sering terdengar kata ‘akselerasi’ di kalangan ikhwahtainment. Yups, mengimbangi dinamisnya dunia kampus dimana seseorang hanya akan berada di kampus paling lama 4,5 tahun. Sementara tuntutan dakwah kampus semakin hari semakin besar dan tentunya membutuhkan sosok-sosok handal ‘tuk memperjuangkannya. Semua orang ingin lulus, semua orang ingin menggapai cita-citanya, semua orang ingin segera menuju ke jenjang selanjutnya. Begitu pula dengan orang-orang yang selama ini mendapat label ‘aktivis dakwah’. Siapapun dia, pastinya tetap manusia biasa yang juga memiliki cita-cita serupa (seperti dlm kalimat sebelumnya). Maka, regenerasi adalah sebuah keniscayaan.

Ketika kebutuhan sumber daya di lapangan semakin besar, sementara stok yang ada tidak mencukupi, alhasil dibutuhkan percepatan atau akselerasi untuk memenuhi tuntutan lapangan. Seperti kata dosen manajemen Farmasi, Pak Satibi pernah bilang dalam satu kuliahnya, “Kepuasan pelanggan adalah tujuan paling utama, karena inilah yang akan menghadirkan loyalitas pelanggan untuk menggunakan produk kita. Dengan begitu, market share akan semakin besar. Oleh karena itu, perusahaan Farmasi harus memperhatikan keinginan pelanggan. Suatu produk yang memiliki pangsa pasar besar dalam artian menjadi produk andalan, upayakan jangan sampai stockout.” Hmm,...sama halnya dengan dakwah kampus. Tantangan yang ada semakin besar, butuh lebih banyak orang di pos-pos strategis. Namun ‘orang’ yang dimaksud di sini tak sekedar ‘orang’ (tau maksudku??). Sementara stok yang ada tak mencukupi kebutuhan itu. Mau gak mau, prinsip akselerasi itu pun diberlakukan.

Mesin produksi berkerja ekstra keras, mencetak produk-produk baru untuk memenuhi kebutuhan customer. Pengadaan raw material, penyiapan bahan baku, proses produksi, hingga kontrol kualitas. Berhubung waktu yang ada tak mencukupi untuk membuat produk sesuai dengan standar operasionalnya, so....jalan singkat pun ditempuh. Asal produk gak stockout, laku keras di pasaran, apa lagi? Bahan mentah tersedia, proses produksi lancar meski tak sesuai prosedur, but.....giliran kontrol kualitas? Kok gak sama ya dengan produk sebelumnya? Sebenarnya juga tak bisa dikatakan ‘produk gagal’, tapi tetep aja kualitasnya di bawah standar. Inilah produk akselerasi. Tak menggeneralisir loh, ada juga produk akselerasi yang bagus, bahkan bisa jadi lebih bagus daripada produk biasa. Tapi probabilitasnya hanya 0,1 % (bukan hasil survey ^_^).

Mungkin memang tuntutan yang terjadi harus dipenuhi, tapi tak ada salahnya kita juga perlu berhati-hati dalam melakukan proses akselerasi tersebut. Bahan mentah disortir dulu, benar-benar yang kualitasnya bagus dan tentunya tahan banting ketika proses itu terjadi. Pasalnya, proses akselerasi tak jarang menyakitkan. Akselerasi bisa dibilang proses yang spesial, jadi memerlukan tahapan-tahapan serta strategi yang spesial pula, jangan disamakan dengan proses normal. Adapun mengenai hasilnya, tentu tidak sesempurna seperti yang lain, ada kalanya memiliki keunggulan yang bahkan tak dimiliki yang lain, tapi selalu saja ada hal-hal yang ternyata masih kurang dan perlu ditambahkan sedikit demi sedikit. Di situlah peran kita, menambahkan sedikit demi sedikit, sesuai dengan kapasitasnya....jangan sampai terlalu penuh, tapi juga jangan dibiarkan kosong.

Dahulu, Rasulullah membina para sahabatnya dengan proses yang tak mudah. Menanamkan iman ke dalam hati-hati manusia dengan perlahan, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya iman itu tertancap kuat ke dalam hati-hati mereka. Sehingga ketika datang seruan untuk bertebaran di muka bumi, menyampaikan ajaran yang mulia ini, dengan serta merta mereka bergerak membawa semangat-semangat yang bergejolak, menyalurkan energi-energi keimanan ke setiap hati-hati manusia. Demikianlah Rasulullah menanamkan iman ke dalam hati manusia, ibarat membentuk buah-buahan ranum di pohonnya pada musim panas. Dapat dibayangkan? Buah mangga yang ranum di pohon pada musim panas tentu rasanya manis dan legit. Tak seperti buah yang dipetik pada saat masih mentah, kemudian dipercepat proses pematangannya dengan zat kimia, tentu rasanya tak semanis yang ranum di pohon. Apalagi ranum di musim panas, bukan di musim hujan.

Biarkan dia ranum pada saatnya....
Biarkan dia nikmati perjalanannya....
Lalu biarkan dia mensyukuri nikmatNya....
Meski kadang harus ada yang terkorban....
Menjadi buah yang ranum di saat tak tepat....
Karena sang empunya menginginkan ia tuk segera disantap.

Kulon Progo, 06 Desember 2009

Trackback URL for this post:

http://inspiratif.org/trackback/81
0
Your rating: None

Comments

Post new comment

Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.